Dari buku yang syaa baca KEMATANGAN yaitu : berpikir obyektif, berpikir positif, mampu mengendalikan dan menyalurkan emosi, bertanggung jawab, serta mampu membina hubungan interpersonal yang harmonis dan konsisten dalam waktu yang relative panjang.
Negara kita, atau organisasi yang ada di tempat saya memiliki banyak sekali SDM yang pintar, namun SDM yang memiliki kematangan itulah SDM yang baik untuk jadi pemimpin. Konon ketidakmatangan ini sering terlihat pada ketidakberanian calon pemimpin untuk mengambil keputusan, memaksakan pendapat, meng-abuse kekuasaan, serta ketidakmampuan membina hubungan antar manusia secara fair dan bertanggungjawab. Pada kenyataannya kita belajar bahwa pada dasarnya pendidikan dan kepintaran tidak selamanya berkorelasi dengan kematangan pribadi, terutama kalau individu mengembangkan fungsi-fungsi didalam dirinya secara berat sebelah, misalnya: banyak berpikir tanpa mengembangkan kepribadian dalam kehidupan sehari-hari di organisasi.
Kebanyakan orang, kematangan ditandai dengan kedewasaan yang diindikasikan dengan keberanian memasuki jenjang perkawinan, punya penghasilan sendiri, serta lepas dari bimbingan ortu. Pada saat situasi menekan, kritis dan beresiko, kita dapat menyadari bahwa respon individu sering menunjukkan ketidakdewasaan. Kita bisa menyimpulkan tidak bijaksananya individu disebabkan karena ia belum mencapai tingkat kematangan yang diharapkan baik oleh lingkungan maupun oleh dirinya sendiri.
Kenyataan yang perlu kita sadari adalah bahwa kematangan tidak diturunkan, bukan bawaan sejak lahir, tetapi benar-benar dipelajari dan dilatih. Selain itu kematangan dan ketidakmatangan juga bisa terkikis dan menular. Bayangkan betapa menyedihkannya bila seseorang yang sudah berangkat matang, kemudian merosot karena berada dilingkungan yang bobrok.
Kenyamanan lingkungan kerja sering membuat kita tidak berani keluar dari lingkungan tersebut, memelihara sikap kebal dan pengecut, bahkan mengembangkan sikap imaturitasnya sampai tua, dan hal ini sering terjadi. Tumpulnya kesadaran yang dipelihara sering menyebabkan ketidakmampuan individu untuk berdialog dengan hati nurani atau kata hatinya, sehingga ia kehilangan kacamata objektif dan positifnya dan memang dibutakan dari realitas.
Berbeda dengan prestasi, individu memang tidak bisa pamer kematangan dengan mudah, tetapi harus membuktikannya dengan tindakan teruji. Sikap obyektif, positif, bertanggung jawab dan matang emosi hanya bisa ditakar dalam hati. Bila seorang pemimpin ingin bersikap bijaksana, adil, dan fair, maka ia perlu menyelesaikan pergulatan dan konflik internalnya di dalam hati dan tidak menyatakan keras-keras….
1 komentar:
keren bro....tapi kadang kalau pemimpin terlalu mateng juga kagak baek...bisa jadi busuk entar.
Contohnya neh Hakim Agung..mentang2 dia senior terus perpanjang usia pensiun,kan diskresi yang kebablasan tuh namanya.
Proficiat.
Posting Komentar