Sebuah organisasi mulai keliatan tidak efektifjika pegawainya sudah tidak lagi kompak satu sama lain. Contoh kasus : para pegawai berlomba-lomba untuk hadir bahkan ketakutan untuk tidak hadir dalam kegiatan atau meeting yang tidak berdampak langsung pada perkerjaan , memang tidak sampai saling memukul, saling menghina, ataupun saling tidak percaya satu sama lain. Secara kasat mata, hubungan antar personal keliuatan harmonis, namun bila perlu adanya koordinasi seperti pembenahan kantor ataupun kegiatan yang sifatnya non kritikal tetapi perlu dikerjain rame-rame, barulah terlihat bahwa komunikasi dan koordinasi seolah sulit sekali diatur dan diimplementasikan kedalam kegiatan yang terarah. Disinilah sesungguhnya kita menyaksikan ketidakefektifan sebuah organisasi.
Sering sekali kejadian dikantor yang diakhiri dengan komentar, ini Cuma masalah komunikasi kok. Kita lupa bahwa tidak efektifnya komunikasi merupakan dosa besar sebuah manajemen. Hasilnya pegawai tidak konek dengan misi dari kantor, tidak memahami bagaimana berperan atau berpartisipasi untuk misi kantor. Tidak efektifnya komunikasi ini bisa tidak terdeteksi lagi. Yang terlihat justru pada tidak komitmen nya setiap bagian, individu atau kelompok terhadap apa yang sudah dijanjikan atau direncanakan. Lebih parah lagi bila komitmen terhadap pekerjaan, waktu, kuantitas tidak bisa dinyatakan lagi.semua tindakan dan rencana hanya bersifat mengambang. Disinilah kita perlu waspada terhadap matinya spirit organisasi atau kantor karena sakitnya komitmen.
Menurut para ahli, komitmen sangat berbeda dari janji atau sekedar pelaksanaan kewajiban. Kewajiban berasal dari otoritas eksternal, sementara komitmen berasal dari dalam diri seseorang. Selain itu komitmen mengandung bobot yang jauh lebih tinggi, karena berkomit berarti menyadari dan bersedia menerima resiko tindakan yang sudah diputuskan untuk diambil oleh individu. Namun tanpa pengambilan resiko tersebut, komtmen akan terasa hampa, ringan tak bertenaga. Disini komitment justru memberi rasa pada kerja keras kelompok. Dalam sebuah kelompok kerja, komitmen akan terasa bila individu dalam kelompok mau tune in mendukung tindakan, bersedia untuk di tekan, siap bertanggung jawab terhadap tugas, dan bahkan ikut serta dalam menghandel masalah yang pasti muncul dalam mengembangkan tugas. Dari sini jelas kita melihat bahwa gejala ”lho kok saya”, atau ”bukan saya pak” tidak laku karena sikap defensif hanyalah pertanda bahwa komitmen individu tidak ada.
Beda tipis dengan kepatuhan dan kewajiban, komitmen adalah sepenuhnya pilihan individu. Individu yang memilih untuk komit biasanya sudah melalui proses pertimbangan terhadap kebutuhan dan visinya sendiri dan sudah yakin akan dampak sikapnya.karena itu biasanya individu yang memiliki komitmen tinggi bisa memberikan impact yang lebih besar di pekerjaan, lebih persuasif , lebih terbuka terhadap kemungkinan dan kritik. Pilihan prilaku yang diambil seseorang yang berkomitmen pun akan diarahkan pada dua hal yang sangat penting, yaitu mendukung dan mengembangkan, karena hanya dengan sikap seperti inilah organisasi dapat maju dan mencapai tujuan yang sudah sama-sama dipahami.
Rapat-rapat yang diikuti oleh orang-orang yang berkomitmen tinggi akan memakan waktu yang lebih singkat daripada bila individu peserta rapat ragu akan komitmen nya. Untuk membuat peserta lain hadir dalam tantangan yang sedang dibicarakan. Seorang ahli komunikasi membuat formula yaitu, bila setiap orang yang sedang berkomunikasi, yang sudah pasti harus dua arah, mengambil 51% tanggung jawab terhadap keberhasilan komunikasi dan follow upnya, maka komunikasi pasti akan dipenuhi oleh spirit komitmen yang utuh. Hanya dengan cara inilah kita bisa mengejar ketertinggalan dan menikmati pekerjaan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar