Minggu, 24 Agustus 2008

KANTOR=TEMPAT BELAJAR

Keadaan yang begitu kompetitif dan terus berubah, dimana akses informasi menjadi sangat berlimpah dan terbuka, kita semua makin sadar bahwa hanya individu dan organisasi yang senantiasa belajar yang bisa survive. Sekedar mengadakan diklat atau training atau beasiswa , nyata-nyata tidak langsung membuat organisasi atau kantor menjadi learning organization. Sebuah lembaga pemerintahan bergengsi secara terpogram mengadakan beasiswa bagi pegawainya untuk meningkatkan gelar pendidikannya ke jenjang S1, S2, bahkan sampai ke jenjang PhD dan sangat sering mengadakan diklat atau traning, tetapi belum dapat digolongkan sebagai learning organization karena budaya budaya belajarnya tidak keliatan dari luar dan tidak terasa di dalam.

In a learning organization, when one of us gets smarter, we all can gets smater. Ternyata dalam sebuah organisasi atau instansi tidak semua orang harus belajar, tetapi proses pembelajaran akan menular tanpa terasa dan perlahan tapi pasti pencerdasan sudah mencapai tingkat yang lebih tinggi tanpa perlu formalitas belajar secara harafiah. Bisa kita bayangkan jika dalam sebuah organisasi atau instansi, proses pembelajaran formal dan non-formal yang sudah diupayakan mati-matian masih sulit terlaksana, bagaimana nasib sebuah Negara yang tidak serius mendesain proses pembelajaran bangsa?

Dalam organisasi atau institusi setiap individu harus menampilkan sikap tidak pelit ilmu dan juga menyakini bahwa kompetensi seperti sikap, nilai, dan keterampilan juga bisa ditularkan pada orang lain. Suasana dalam organisasi sebagai pembelajar tidak muncul dalam suasana belajar intensif, namun lebih tampak pada diskusi seru, komunikasi intensif, keinginan untuk updating, serta rasa haus akan kesempatan belajar. Pertanyaan-pertanyaan seperti :”darimana kamu dapat ide itu?”,”bagaimana sih caranya?”.”bagaimana kalaua..”, berkumandang dalam rapat0rapat yang membuat setiap orang di kantor seperti berada dalam sebuah laboratorium besar yang tiada hentinya menyambut tantangan yang berasal dari masalah dan kesempatan yang terlihat. Kegagalan atau hampir gagal dan kesuksesan dilapanganlah yang menjadi focus untuk memperoleh “lesson learned”, bukan semata teori.

Organisasi bisa berharap menjadi organisasi pembelajar, bahkan mengeluarkan banyak uang untuk mendukung pelatihan dan bentuk program pembelajaran lainnya, tapi kalau suasana kerja tidak customer friendly, kaku, tidak mampu melakukan komunikasi yang menembus divisi, doyan berpolitik, berprilaku tidak sejalan dengan misi organisasi alias penuh birokrasi dan masih sibuk mementingkan kebutuhan pribadi, semua upaya akan percuma.organisasi pembelajar akan tercipta hanya bila suasana kerja mendorong pengembangan pribadi dan personal mastery secara utuh, menyemangati kerja tim, memberi kesempatan untuk problem solving dan mengupayakan evaluasi yang jujur dan tulus.

Beberapa orang berpikir bahwa kita harus mencari waktu secara khusus untuk mempelajari, menganalisa atau memikirkan sesuatu. Bahkan ada yang berpikir :”ah, belajar hal baru itu tidak penting. Biarkan yang muda-muda saja yang mempelajarinya.” Sikap layu” inilah yang merupakan cikal bakal kesulitan terbangunya spirit belajar dari organisasi.

Kita lihat bahwa dalam pembelajaran di tempat kerja, dosis action dalam proses belajar memakan hampir seluruh materi pembelajaran. Perencanaan target dan tujuan, mutasi, promosi jabatan, dan kerjasama lintas instansi justru merupakan kegiatan belajar yang terpenting. Saat semangat belajar, memperbaiki diri, dan berubah sudah bangki dan berapi-api, barulah kemudian pelatihan dan program beasiswa bisa lebih efektif sebagai tindak lanjut.

Tidak ada komentar: