Sabtu, 30 Agustus 2008

SEBUAH KOMITMEN

Sebuah organisasi mulai keliatan tidak efektifjika pegawainya sudah tidak lagi kompak satu sama lain. Contoh kasus : para pegawai berlomba-lomba untuk hadir bahkan ketakutan untuk tidak hadir dalam kegiatan atau meeting yang tidak berdampak langsung pada perkerjaan , memang tidak sampai saling memukul, saling menghina, ataupun saling tidak percaya satu sama lain. Secara kasat mata, hubungan antar personal keliuatan harmonis, namun bila perlu adanya koordinasi seperti pembenahan kantor ataupun kegiatan yang sifatnya non kritikal tetapi perlu dikerjain rame-rame, barulah terlihat bahwa komunikasi dan koordinasi seolah sulit sekali diatur dan diimplementasikan kedalam kegiatan yang terarah. Disinilah sesungguhnya kita menyaksikan ketidakefektifan sebuah organisasi.

Sering sekali kejadian dikantor yang diakhiri dengan komentar, ini Cuma masalah komunikasi kok. Kita lupa bahwa tidak efektifnya komunikasi merupakan dosa besar sebuah manajemen. Hasilnya pegawai tidak konek dengan misi dari kantor, tidak memahami bagaimana berperan atau berpartisipasi untuk misi kantor. Tidak efektifnya komunikasi ini bisa tidak terdeteksi lagi. Yang terlihat justru pada tidak komitmen nya setiap bagian, individu atau kelompok terhadap apa yang sudah dijanjikan atau direncanakan. Lebih parah lagi bila komitmen terhadap pekerjaan, waktu, kuantitas tidak bisa dinyatakan lagi.semua tindakan dan rencana hanya bersifat mengambang. Disinilah kita perlu waspada terhadap matinya spirit organisasi atau kantor karena sakitnya komitmen.

Menurut para ahli, komitmen sangat berbeda dari janji atau sekedar pelaksanaan kewajiban. Kewajiban berasal dari otoritas eksternal, sementara komitmen berasal dari dalam diri seseorang. Selain itu komitmen mengandung bobot yang jauh lebih tinggi, karena berkomit berarti menyadari dan bersedia menerima resiko tindakan yang sudah diputuskan untuk diambil oleh individu. Namun tanpa pengambilan resiko tersebut, komtmen akan terasa hampa, ringan tak bertenaga. Disini komitment justru memberi rasa pada kerja keras kelompok. Dalam sebuah kelompok kerja, komitmen akan terasa bila individu dalam kelompok mau tune in mendukung tindakan, bersedia untuk di tekan, siap bertanggung jawab terhadap tugas, dan bahkan ikut serta dalam menghandel masalah yang pasti muncul dalam mengembangkan tugas. Dari sini jelas kita melihat bahwa gejala ”lho kok saya”, atau ”bukan saya pak” tidak laku karena sikap defensif hanyalah pertanda bahwa komitmen individu tidak ada.

Beda tipis dengan kepatuhan dan kewajiban, komitmen adalah sepenuhnya pilihan individu. Individu yang memilih untuk komit biasanya sudah melalui proses pertimbangan terhadap kebutuhan dan visinya sendiri dan sudah yakin akan dampak sikapnya.karena itu biasanya individu yang memiliki komitmen tinggi bisa memberikan impact yang lebih besar di pekerjaan, lebih persuasif , lebih terbuka terhadap kemungkinan dan kritik. Pilihan prilaku yang diambil seseorang yang berkomitmen pun akan diarahkan pada dua hal yang sangat penting, yaitu mendukung dan mengembangkan, karena hanya dengan sikap seperti inilah organisasi dapat maju dan mencapai tujuan yang sudah sama-sama dipahami.

Rapat-rapat yang diikuti oleh orang-orang yang berkomitmen tinggi akan memakan waktu yang lebih singkat daripada bila individu peserta rapat ragu akan komitmen nya. Untuk membuat peserta lain hadir dalam tantangan yang sedang dibicarakan. Seorang ahli komunikasi membuat formula yaitu, bila setiap orang yang sedang berkomunikasi, yang sudah pasti harus dua arah, mengambil 51% tanggung jawab terhadap keberhasilan komunikasi dan follow upnya, maka komunikasi pasti akan dipenuhi oleh spirit komitmen yang utuh. Hanya dengan cara inilah kita bisa mengejar ketertinggalan dan menikmati pekerjaan.

Minggu, 24 Agustus 2008

KANTOR=TEMPAT BELAJAR

Keadaan yang begitu kompetitif dan terus berubah, dimana akses informasi menjadi sangat berlimpah dan terbuka, kita semua makin sadar bahwa hanya individu dan organisasi yang senantiasa belajar yang bisa survive. Sekedar mengadakan diklat atau training atau beasiswa , nyata-nyata tidak langsung membuat organisasi atau kantor menjadi learning organization. Sebuah lembaga pemerintahan bergengsi secara terpogram mengadakan beasiswa bagi pegawainya untuk meningkatkan gelar pendidikannya ke jenjang S1, S2, bahkan sampai ke jenjang PhD dan sangat sering mengadakan diklat atau traning, tetapi belum dapat digolongkan sebagai learning organization karena budaya budaya belajarnya tidak keliatan dari luar dan tidak terasa di dalam.

In a learning organization, when one of us gets smarter, we all can gets smater. Ternyata dalam sebuah organisasi atau instansi tidak semua orang harus belajar, tetapi proses pembelajaran akan menular tanpa terasa dan perlahan tapi pasti pencerdasan sudah mencapai tingkat yang lebih tinggi tanpa perlu formalitas belajar secara harafiah. Bisa kita bayangkan jika dalam sebuah organisasi atau instansi, proses pembelajaran formal dan non-formal yang sudah diupayakan mati-matian masih sulit terlaksana, bagaimana nasib sebuah Negara yang tidak serius mendesain proses pembelajaran bangsa?

Dalam organisasi atau institusi setiap individu harus menampilkan sikap tidak pelit ilmu dan juga menyakini bahwa kompetensi seperti sikap, nilai, dan keterampilan juga bisa ditularkan pada orang lain. Suasana dalam organisasi sebagai pembelajar tidak muncul dalam suasana belajar intensif, namun lebih tampak pada diskusi seru, komunikasi intensif, keinginan untuk updating, serta rasa haus akan kesempatan belajar. Pertanyaan-pertanyaan seperti :”darimana kamu dapat ide itu?”,”bagaimana sih caranya?”.”bagaimana kalaua..”, berkumandang dalam rapat0rapat yang membuat setiap orang di kantor seperti berada dalam sebuah laboratorium besar yang tiada hentinya menyambut tantangan yang berasal dari masalah dan kesempatan yang terlihat. Kegagalan atau hampir gagal dan kesuksesan dilapanganlah yang menjadi focus untuk memperoleh “lesson learned”, bukan semata teori.

Organisasi bisa berharap menjadi organisasi pembelajar, bahkan mengeluarkan banyak uang untuk mendukung pelatihan dan bentuk program pembelajaran lainnya, tapi kalau suasana kerja tidak customer friendly, kaku, tidak mampu melakukan komunikasi yang menembus divisi, doyan berpolitik, berprilaku tidak sejalan dengan misi organisasi alias penuh birokrasi dan masih sibuk mementingkan kebutuhan pribadi, semua upaya akan percuma.organisasi pembelajar akan tercipta hanya bila suasana kerja mendorong pengembangan pribadi dan personal mastery secara utuh, menyemangati kerja tim, memberi kesempatan untuk problem solving dan mengupayakan evaluasi yang jujur dan tulus.

Beberapa orang berpikir bahwa kita harus mencari waktu secara khusus untuk mempelajari, menganalisa atau memikirkan sesuatu. Bahkan ada yang berpikir :”ah, belajar hal baru itu tidak penting. Biarkan yang muda-muda saja yang mempelajarinya.” Sikap layu” inilah yang merupakan cikal bakal kesulitan terbangunya spirit belajar dari organisasi.

Kita lihat bahwa dalam pembelajaran di tempat kerja, dosis action dalam proses belajar memakan hampir seluruh materi pembelajaran. Perencanaan target dan tujuan, mutasi, promosi jabatan, dan kerjasama lintas instansi justru merupakan kegiatan belajar yang terpenting. Saat semangat belajar, memperbaiki diri, dan berubah sudah bangki dan berapi-api, barulah kemudian pelatihan dan program beasiswa bisa lebih efektif sebagai tindak lanjut.

Rabu, 20 Agustus 2008

POLITICALLY SAVVY

Politik kantor yang sering ditanggapi orang dengan sikap alergik pada kenyataannya tidak pernah punah, bahkan merupakan realita. Kita sering tidak bersimpati pada orang yang sok bener terutama di depan atasan bahkan tega menyingkirkan semua orang yang dianggap tidak benar, apalagi membahayakan kedudukannya. Ada juga orang yang tidak kita sukai karena suka ia pandai sekai menggunakan power dan bisa membuat ketergantungan atasan atau organisasi kepadanya, sehingga pada waktunya ia akan melakukan burgain atas powernya.

Mengapa permainan politik seperti ini seringkali menjengkelkan orang-orang yang di luar permainan? Menurut ahlinya, politik kantor ini menjadi nyata pada unit organisasi atau kantor yang kekuatan SDM nya tidak seimbang. Ada istilah like and dislike yang muncul karena standart kinerja yang sulit dibuktikan apalagi dihitung, juga job description yang tidak seimbang dan tidak jelas, yang kesemuanya dapat membangkitkan rasa tidak aman dalam bekerja. Rasa tidak aman ini akan lebih terasa lagi pada orang yang sama sekali tidak mau bermain dan juga tidak menyadari apalagi tidak tahu cara mainnya. Politik kantor memang sangat subyektif dan informal, itulah sebabnya hal ini terasa tetapi sulit diraba dan teraga.

Untuk bisa survive dilingkungan kantor atau organisasi, kita memang perlu kuat dan berakar, serta tahu apa yang kita mau. Kita bisa menyasar hal-hal material, kita bisa juga mementingkan karir, kinerja, dan peningkatan kompetensi, sementara orang lain ada yang memburu keterlibatannya dalam kelompok tertentu, power atau control terhadap situasi. Namun, berdiam diri, dan berharap bahwa segala sesuatu dapat berjalan sesuai dengan system yang ada memang hampir tidak mungkin. Kita perlu tahu dimana pusat kekuatan, siapa orang yang berpengaruh, dan bisa mempengaruhi lingkungan social. Kita pun bisa melicinkan upaya kita melalui pendekatan, sepanjang kita bersikap fair, tidak manipulatif, dan curang, me-lobby, mempersuasi, dan berpolitik memang harus dilakukan. Sifat negative seperti yang kita kenal :menyembah keatas, menendang kebawah, tentunya adalah gaya yang tidak anggun dan tidak dilakukan oleh orang yang tahu berpolitik kantor dengan baik.

Jejaring pertemanan yang berdasarkan kedekatan masa kecil, almamater, kesamaan pandangan maupun idiologi biasanya merupakan lahan berpolitik, baik di perusahaan maupun organisasi. Sama seperti strategi perang, berpolitik pun memerlukan pemetaan dan perencanaan yang mapan. Dari pengamatan para ahli, orang-orang kuat dalam organisasi biasanya memang bukan tidak berstrategi, mereka juga politically savvy. Orang-orang ini tahu bagaimana berhubungan dengan atasan, bahkan mendukung agar atasannya sukses. Bersamaan dengan upaya itu, seorang yang tahu berpolitik pasti berupaya selalu tampil di rapat-rapat penting, tahu mendekati orang-orang kunci, menunjukkan corporate manners yang baik, dan menampilkan kemampuannya sebagai team player.

Dalam organisasi apapun, kita hanya bisa eksis bila mempunya kontribusi yang signifikan. Bila kita amati orang yang pandai me-lobby dan berpolitik, sementara produksinya kosong, maka orang ini lambat laun tidak bisa meneruskan karirnya. Kekuatan kita dalam berproduksi merupakan modal agar kita bisa di perhitungkan dalam peta social organisasi. Individu yang produksinya diatas rata-rata tinggal mengasah cara berinteraksi, berapat, mendekati atasan, dan orang-orang kunci, serta membuat diri lebih diperhitungkan dengan berusaha lebih bermain fakta, membina hubungan emosional yang sehat, berusaha menonjolkan orang lain, tanpa lupa memunculkan diri sendiri. Kontribusi yang sudah kita tunjukkan jangan sampai dikotori dengan mempraktekkan cara gaul murahan seperti bergosip, menekan, menyalahgunakan jabatan, mencari muka tanpa alas an.

Selasa, 19 Agustus 2008

ADA APA DENGAN OTAK KU

MENGAPA MEMORI OTAK KITA HILANG?

Menurut ahli saraf dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Dr. Jan Sudir Purba, Ph.D., lupa dan hilangnya memori otak, terutama terjadi akibat kondisi cortex (bagian dari otak yang menyimpan informasi untuk jangka waktu lama) tidak bagus atau rusak. Hal ini terlihat pada kasus demensia (mundurnya fungsi otak dalam mengingat dan berpikir) dimana neuron-neuron yang ada di bagian cortex mengalami kerusakan. Rusaknya neuron bisa terjadi akibat :

1. Kekurangan makanan. Asupan yang baik untuk kesehatan otak kita adalah makanan yang mengandung omega-3, vitamin C dan E sebagai sumber anti oksidan, vitamin B Komplek, float, hingga ginkgo biloba, jika otak kita memang sudah bermasalah.

2. Banyaknya radikal bebas. Sementara antioksidan dalam tubuh kita kurang.

3. Stress yang membuat produksi hormon kortisol meningkat. Tingginya kortisol ini akan merusak metabolisme sel, sehingga mitokondria atau sel yang disebut juga sel energi, menjadi mati.

4. Cidera kepala yang berakibat pada rusaknya jaringan otak.

5. stroke. Strokre sangat potensial merusak cortex manakala, peredaran darah ke cortex terhambat dan lokasi perdarahan (stroke) terjadi di cortex. Juga harus diperhatikan sebesar apa (kuantitas) jaringan yang rusak. Jika gumpalan darah yang terjadi lebih dari 1000 ml3, maka akan ada gangguan ingatan.”kata Dr. Jan.

6. Akuilah, anda semakin tua.


BAGAIMANA ALKOHOL MEMPENGARUHI MEMORI OTAK KITA.

Sebelum zat itu memukul kepala kita, ketahuilah bahwa terlalu banyak meminum alkohol membuat kita menderita amnesia sementara. Minuman itu akan menganggu kemampuan hippocampus untuk mengolah memori, dikenal sebagai blackout.

Alkohol merupakan toksin yang bukan hanya mempengaruhi hippocampus tapi juga jaringan-jaringan lain di otak. Alkohol dan zat-zat adiktif lainnya, membuat kerja reseptor di otak tidak maksimal. Pada kasus ketergantungan alkohol atau narkotika, akan terjadi kerusakan pada sel-sel otak yang berimbas pada kerusakan reseptor.

Tapi otak kita memang misteri. Terlepas kita seorang alkoholik atau social drinker, memori yang tidak hilang bisa sangat sulit diingat kecuali kita mulai minum lagi dan otak kita tersandung pada apa yang disebut state dependent. Bila kita mengolah memori dalam keadaan yang spesifik, seperti mabuk, kita kemungkinan mengingatnya lagi ketika kita berada dalam keadaan mabuk juga.barangkali ini yang membuat musisi-musisi kita di era 80 an mabuk sebelum manggung.


BUAT OTAK KITA BERPIKIR LEBIH CEPAT DAN MENGINGAT LEBIH LAMA

Caranya mudah dan sangat sederhana. Kita cukup menghindari hal-hal atau komponen yang bisa merusak otak, antara lain :

1. Menghindari metabolisme otak yang terlalu tinggi , misalnya stress yang berlebihan. Stress adalah racun, karena itu kita harus mencari kompensasi dari stress seperti mendapatkan udara yang bagus, mendapatlkan makanan yang bagus.

2. Mengindari bahan-bahan dari luar yang bisa merusak otak, makanan yang banyak mengandung logam, zat-zat adiktif yang mempengaruhi sistem neurotransmiter dsb.

3. melatih otak. Banyak membaca dan berbicara, main catur, mengisi teka-teki, mendengarkan musik, berkesenian, dan olah raga. Olah raga banyak mengaktifkan komponen tubuh termasuk otak.

HANYA KARENA KITA TIDAK BISA MENGINGAT SUATU PERISTIWA, NAMA, ATAU WAJAH SESEORANG, BUKAN BERARTI INFORMASI ITU SUDAH LENYAP DARI OTAK KITA.

Senin, 18 Agustus 2008

MULAILAH BERPIKIR KRITIS

Pada saat harga BBM naik, yang melibatkan protes mahasiswa, DPR, badan eksekutif, dan masyarakat banyak. Apa artinya semua ini?

Pastinya demokrasi. Kita bisa beranggapan bahwa generasi muda sudah memiliki kemampuan berpikir yang advanced.

Good thinking is an important element of life success in the information age.

Menurut saya kegiatan berpikir adalah kegiatan yang mulia dan merupakan anugerah Tuhan yang paling besar bagi manusia, karena tidak ada mahluk lain di dunia ini yang bisa berpikir dengan cara secanggih manusia.dengan kemampuannya berpikirlah manusia dapat menggambarkan isi dunia ini. Dna dengan adanya pemikiran-pemikiran yang sudah di uji oleh masyarakat, kita bisa yakin bahwa bangsa kita sudah mengalami kemajuan dalam proses berpikirnya.

Aturan yang diajarkan orang tua kita dulu untuk tidak membantah, berdebat untuk menjunjung harmoni, kita sadari menjadi penyebab tidak suburnya cara berpikir kita.

Kesempatan untuk menumbuhkan dan mematangkan keputusan dan konsep justru dari diadunya pendapat kita dengan kritik, pertanyaan, keraguan orang lain, bahkan setelah perdebatan sengit. Yang paling penting, sikap mental juga perlu kita siapkan untuk memberi dan menerima kritik dan sanggahan.

Para ahli menyarankan agar focus pada isu bukan orangnya, sebagai landasan sikap rasional yang perlu dikembangkan dalam menembak masalah, menelurkan solusi, dan bukan mengumbar emosi dan kesalahan.

Disini, kitapun harus mawas diri bahwa kita sering terjebak berselisih paham, karena kita tidak sealiran atau tidak menyukai individu yang berpendapat.

Sikap asbun (asal bunyi) sering juiga disebut asal ngomong, tanpa berlatih bertanggung jawab terhadap tindak lanjut pendapatnya, malahan bisa menjatuh kan harga diri dan kewibawaan kita sendiri.

Namun demikian, masih banyak kita temui orang yang berpendapat tapi tidak bertanggung jawab.Pernyataan yang di lempar tanpa di follow up, akan menyulitkan orang lain jika tanpa diserta dengan tanggung jawab untuk mencari solusi bukanlah seorang pembuka diskusi yang sehat. Orang yang ingin masuk ke dalam kancah perdebatan intelektual, perlu berlatih mencermati gejala, tulisan tindakan atau keputusan dengan hati-hati dalam berusaha mendapatkan inti dari isu tersebut.seruan “turunkan BBM”, “turunkan sembako”, akan lebih intelek bila yang berseru telah mempelajari , apakah gejala kenaikan BBM ini melulu disebabkan oleh korupsi atau gejala yang mendunia. Kita pun perlu membedakan fakta dari pendapat, kasus dari gejala umum, membersihkan bias, selain tidak berpikir “hitam putih” saja, dan membuka diri terhadap segala kemungkinan yang kita sebelumnya tidak tahu.

Manusia, tidak terlepas dari berapa usianya, sering tidak menyadari kesalahan berpikirnya. Ada yang dari muda sampai tua tetap keras kepala, ada juga yang tidak pernah sadar bahwa ia “sok tahu”, menyakini sesuatu tanpa pernah meng up date ataupun mengecek kebenarannya terlebih dahulu. Banyak juga orang berpendapat bahwa kekuatan berpikir berkorelasi besar dengan IQ, tingkat kecerdasan. Bila ada orang pintar berpendapat, orang cenderung meng-iya-kan, dan setuju. Fenomena ”tunduk pada yang cerdas” ini sering menumbuhkan sikap submisif dalam kegiatan mengasah cara berpikir kita. Sebenarnya cara berpikir kita bisa dikembangkan dengan cara yang simpel : memelihara kegiatan mempertanyakan, beranggapan bahwa semua kebenaran itu sementara, dan bersikap undogmatic.Kegiatan ini sudah bisa kita cermati di acara-acara debat di televisi maupun radio. Hanya saja kalo bener-bener ingin sehat, kitapun perlu menyadari bahwa otak hanya bisa menyerap sedikit informasi dibandingkan informasi yang tersedia, mengenai suatu isu. Bila kita ingin diterima sebagai pemikir obyektif, kita perlu siap membuka pikiran selayaknya seorang anak sekolah, menyerap informasi sebanyak-banyaknya, baru kemudian memilah dan menyaring sehingga presisi, akurasi, relevansi, logika, dan kedalaman bisa tercapai secara optimal.

Mudah-mudahan dengan tulisan diatas kita maju dan jadi pintar sambil tetap perlu memiliki ruang untuk berpikir inovatif dan kreatif.

Sabtu, 16 Agustus 2008

SEKILAS INFO BUAT TEMEN2X PEGAWAI DITJEN. PERBENDAHARAAN

Kita semua tahu bahwa dana pemerintah selama ini disimpan di Bank Indonesia.Tapi kita tidak pernah tahu apakah dana tersebut mendapat bunga ato tidak?

Tgl 30 mei 2008 seperti yang saya kutip dari surat kabar Kompas bahwa Gubernur BI (Boediono) akan membahas dengan Menteri Keuangan (Sri Mulyani Indrawati) mengenai besaran bunga yang akan diberikan kepada dana pemerintah yang disimpan di BI.

Ternyata dana pemerintah yang disimpan di BI cukup besar dimana jika diberikan bunga berbasiskan suku bunga sertifikat BI akan dapat menambah penerimaaan negara kita.

Waduh berarti cukup lumayan juga..

Menurut Boediono besaran bunga yang diberikan nanti akan mempertimbangkan kredibiltasneraca BI. Ini perlu agar pembayaran bunga tersebut tidak memberatkan neraca BI.

Jika neraca BI dibebani pembayaran bunga terlalu besar, kredibiltas BI sebagai otoritas moneter bisa dipertanyakan pelaku pasar modal dan sektor riil.

Sebaliknya, di sisi pemerintah, bunga itu sangat penting dalam menambah penghasilan negara.oleh sebab itu, permintaan yang disampaikan pemerintah cukup beralasan.

Menteri Keuangan telah mengupayakan agar dana pemerintah yang disimpan di BI bisa menjadi salah satu sumber penerimaan negara. Jumlah dana yang disimpan dalam Rekening Bendahara Umum Negara (BUN) terus berubah setiap harinya.

Adapun dana yang disimpan di rekening penempatan merupakan dana yang biasa disimpan oleh Bendahara Proyek di semua Kementerian dan Lembaga Non Departemen.

Setiap Bendahara rata-rata menyimpan Rp. 100 Juta sehari. Jika rata-rata Bendahara menyimpan Rp. 100 Juta dan jumlah Bendahara 21.000 orang, total dana yang disimpan di rekening penempatan Rp. 2,1 Triliun per hari. Dana ini akan mendapatkan bunga yang berbasiskan suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (BI) tiga bulan.

Direktur Jenderal Perbendaharaan Depkeu mengatakan, pemerintah pada dasarnya ingin bunganya tinggi. Sementara BI ingin agar bunganya minimal karena bisa mempengaruhi surplus dalam neraca mereka. Ini yang belum tuntas hingga sekarang.

Hidup Departemen Keuangan!!!

DATA KAS PEMERINTAH

*Per 31 Desember 2007 dan 2006

(dalam rupiah)

Uraian

31 Desember 2007

31 Desmeber 2006

Rekening Kas BUN di BI*

18.170.046.148.742

954.310.836.789

Rekening Kas di KPPN

5.492.896.654.079

20.594.618.632.501

Rekening Pemerintah Lainnya di BI

3.248.408.392.480

12.331.109.271.481

Kas di Bendahara Pengeluaran

1.245.221.273.097

1.457.362.551.679

Kas di Bendahara Penerimaan

878.054.836.115

429.489.122.788

Kas di BLU

444.767.605.022

-

Kas di Trust Fund

0

2.425.944.284.122

Jumlah Kas dan Bank

29.479.394.909.535

38.192.834.699.360

* Uang yang mendapatkan bunga adalah uang yang disimpan di Rekening Kas BUN dan di BI.

Sumber : Laporan Keuangan Pemerintah Pusat Tahun 2007 (hasil audit)

Selasa, 12 Agustus 2008

STOP BEROLOK-OLOK ! ! ! !

Saya baru sadar betapa bangsa ini gemar berolok-olok dan mencerca bangsa sendiri.

Ketika dalam salah satu blog seseorang yang membahas mengenai olok-olok, ditanggapi dengan sahabatnya dengan ungkapan,”bukannya bangsa Indonesia memang biasa berkomunikasi dengan cara ‘olok-olok’?”

Ironisnya, olok-olok ini sesungguhnya bisa membuat kita terjebak pada self-fulfilling prophecy, yaitu terdorongnya situasi atau perilaku baru melaui perkataan, pikiran atau keyakinan kita sendiri. Ungkapan-ungkapan seperti “kita ini bangsa yang bodoh”,”otak orang Indonesia paling segar, karena tidak pernah dipakai’”,”pemberantasan korupsi tidak akan pernah tuntas”, karena tidak diikuti oleh tindakan,action plan pribadi, kelompok maupun institusi secara jelas, malah bisa membuat kita sendiri frustasi dan malah memaki diri sendiri, bahkan melahirkan ‘lingkaran setan’ yang dibuat oleh keyakinan itu sendiri. Dikarenakan kemalasan dan tidak teganya kita memaki diri sendiri, maka olok-olok lah yang kita lontarkan pada pihak lain, dalam hal ini organisasi, lembaga pemerintahan, ataupun Negara sendiri.

Tertawa dan bercanda bersamaa adalah cara manusia untuk mempererat hubungan. Bayangkan betapa runyamnya hidup seseorang yang tidak pernah tersenyum atau tertawa. Tersenyum dimulai dari adanya koneksi yang menunujukkan daya tarik interpersonal, sementara tertawa dimulai dari kemauan individu untuk melihat sisi lucu dari sesuatu yang kasat mata.

Hanya pada saat individu berkembanglah, ia bisa mempunyai prespektif terhadap hal yang tidak kasat mata, lebih abstrak, dalam, dan melihatnya dari sudut pandang lucu, gembira, dan tidak sendu ataupun serius.

Orang yang banyak tertawa memang cenderung lebih happy dan optimistis. Namun tertawa, baik mengenai diri sendiri atau terhadap suatu situasi tentunya tidak berlaku bila tawa itu diwarnai dengan sinisme yang berlebihan ataupun pelecehan ke orang lain, apalagi ke diri sendiri.

Olok-olok yang sering kita dengar, terutama akhir-akhir ini, rasanya sulit digolongkan pada olok-olok yang sehat, karena ia terasa getir, sinis bahkan tidak menunjukkan esteem atau penghargaan diri. Orang yang ber-esteem rendah kita kenal sebagai orang yang mempunyai kebiasaan untuk menilai negative diri sendiri, tidak menyukai tantangan, malas bertindak, dan banyak tampil sebagai pengkritik tajam bahkan melecehkan orang lain. Tentunya kegiatan ini bukan bercanda lagi, apalagi disebut “sense of humor”.

Marilah mulai bangkit dengan membuat daftar sukses, apakah itu keberhasilan mengendarai mobil, menyelesaikan satu kerjaan dengan baik dan tepat waktu, lulus program beasiswa dari kantor, berhemat 100 ribu rupiah, ataupun sekedar keberhasilan untuk dating ke kantor tepat waktu. Dengan bersyukur, kita memupuk kualitas positif dan kompetensi sebagai modal kita.selanjutnya, mari kita hidup sesuai dengan tuntutan yang realistic dan tidak lupa untuk bertindak!

Tetap bersyukur dalam segala hal.

Senin, 11 Agustus 2008

6 Langkah Sukses Meniti Karir

Tak seorangpun karyawan yang tak ingin sukses.
Semua Pasti ingin memiliki jenjang karir yang menjanjikan masa depan cerah.
Untuk meraihnya, tentu saja dibutuhkan usaha dan pengorbanan yang cukup besar.
@@@@@@@@@@@@@@@

Beberapa tips berikut ini mungkin dapat membantu kita untuk mencapai jenjang karir yang diinginkan :


1. Berdedikasi Tinggi

Untuk mewujudkan cita-cita akan karir yang terus berkembang, diperlukan daya juang dan dedikasi pada institusi yang tinggi.Usahakan jangan berdedikasi jika hanya ingin mendapatkan promosi jabatan atau mutasi semata. Lakukan semua pekerjaan dengan disiplin yang tinggi. Bila perlu disertai dengan prestais yang menonjol dibidang yang anda geluti.

2. Berinisiatif
Jangan ragu untuk melontarkan ide dan inisiatif. Tunjukkan pula hasil karya dan penyelesaian tugas anda, kerjasama dan komunikasi yang memuaskan semua pihak.

3. Menambah Ilmu dan Pengetahuan
Tingkatkan kepercayaan diri dengan memperbanyak ilmu dan keterampilan yang relevan dan signifikan agar dapat memberikan hasil karya yang memuaskan.

4. Tidak GapTek
Di zaman yang serba canggih ini, ada baiknya jika anda menguasai teknologi internet, penggunaan software tertentu dalam proses kerja di kantor anda, dan teknologi yang relevan dengan kompetensi khusus.

5. Jalin Kerjasama dengan Unit-Unit Terkait
Pekerjaan yang kita lakukan sehari-hari pasti terkait dengan unit kerja lainnya. Oleh karena itu, ada baiknya jika anda menunjukkan sikap bersahabat, serta menghargai bantuan atau karya orang lain. Lakukan juga hubungan komunikasi yang baik dengan sesama staf maupun atasan. Jangan lupa untuk mengucapkan kata terima kasih atas bantuan dan kerjasama mereka.

6. Selalu Menjaga Sikap
Sebuah kantor yang berkualitas tentunya menuntut pegawainya untuk selalu menjaga penampilan diri, serta kesopanan dalam tutur kata. Ada baiknya jika anda selalu menyesuaikan cara berpakaian dengan budaya kantor yang berlaku. Terlebih sikap ramah, tersenyum, dan sopan yang selalu ditunjukkan dalam perilaku kerja.

semoga berguna dalam mengembangkan karir teman-teman...

c u...






Sabtu, 09 Agustus 2008

9=kesempurnaan






9 artinya kesempurnaan...

gak tau kenapa pada saat brow,ngeliat
arti2x angka...
teringat aku br aja ngerjain kerjaan ktr ngadai
n training 9 angkatan non stop man..(kek bis jarak jauh aja ya)..

dari bulan ma
ret s.d.juli 2009 di treasury learning center jakarta
tepatnya deket bgt ma sarinah...
para peserta di inapkan di
hotel cemara (secara hotel itu dah kek rumah sendiri aja) kebayang dunk 3 bulan wara wiri di hotel itu.
kebayang gak capeknya?diikuti oleh 560 pegawai
seindonesia yang dibagi menjadi 9 angkatan dengan beragam cerita tiap angkatannya...

tapi itulah kegiatan yang paling fun n menantang selama aku di jakarta...
seru bgt...

aku bisa banyak kenal kakak kelas dan adik kelas yang ada di seluruh indonesia yang efeknya bisa menambah pergaulan man..

dan yang paling penting selama 9 angkatan itu berlangsung ada pertemenan yang terjalin semakin erat (bos aku, bos sebelah aku, n of course mbak AA)
wanita ini salah satu temen aku yang inspiring bgt buat aku...
u r d best one deh...

kami semakin akrab n saling mengerti satu sama lain, jadi suasana ktr asik.

selamat buat temen2x yang udah ikut diklat ya...
selamat balik ke ktr asal...miz u all...

suatu saat kita pasti ketemu lagi di training berikutnya..


B A K ist the best deh...