Satu hal yang terbaik adalah melihat, mendengar dan merasakan segalanya. Hanya ada satu tujuan yang pasti. Untuk mendapatkan ; Arti sebuah perjalanan.
Selasa, 04 November 2008
MY CAREER
Terkadang kita lupa untuk berpikir, apakah atasan kita merasa bahwa dia adalah penentu karir bawahannya?
Persepsi manajemen karir, baik penunjukan, pengangkatan, penilaian dan mutasi datangnya dari “atasan”, memang ada dan masih bisa kita temukan sampai sekarang, terutama di organisasi yang birokratis, seperti organisasi pemerintahan atau ketentaraan. Sementara dalam bisnis, dengan berkembangnya praktik yang kompetitif dan semakin nyatanya eksodus akibat pasar kerja global, banyak kita lihat terjadi pergeseran pada hubungan ketenagakerjaan. Metafora seperti “karir itu bentuk tangga atau pyramid”, sudah berganti dengan paradigma baru seperti “ jeruk makan jeruk”, atasan bisa jadi bawahan. Tangga karir yang semakin berkurang anak tangganya, bahkan kadang hilang karena dihilangkan satu divisi besar dalam organisasi, sudah semakin menggejala.
Demi efisiensi, organisasi biasa melakukan pengurangan karyawan, “delayering”, desentralisasi, automasi, dan pengukuran kinerja yang lebih cermat. Kompetensi yang tadinya dikonsentrasikan pada kompetensi teknis, cepat sekali basi dengan tingginya kompetisi untuk meraih excellence. Sebuah organisasi bangga sekali dengan kapasitas pengalaman kerja karyawannya pada suatu waktu, lima tahun kemudian ”excellence” ini sudah terkikis dengan dibutuhkannya keterampilan-keterampilan baru. Menjawab tantangan ini, mau tidak mau, perusahaan akan menyuntikkan tenaga-tenaga mumpuninya, bila individu dalam organisasi tidak meng-update ilmu, lemah dalam problem solving, dan tidak bisa dikembangkan lebih lanjut. Hal-hal inilah yang membuat karir semakin kompetitif dan semakin sulit di genggam, sementara, kita yang berada di organisasi pun sulit mengajukan diri bila tidak memenuhi spesifikasi lagi. Rasa-rasanya, jeritan agar kitalah yang di dalam organisasi yang perlu diperhatikan tidak akan mempan.
Paradigma bahwa tidak berkembangnya karir kita adalah karena lalainya organisasi sudah mesti kita tinggalkan, bila tidak, maka kita akan termakan sendiri oelh stagnannya karir sebelum waktunya karena terninabobokannya kita dalam organisasi. Kita sering menyaksikan betapa individu bisa bersandar pada system karir yang dibuat orang lain untuknya. Padahal, bukankah kita sama-sama sadar bahwa kita tidak hanya berhak tetapi juga bertanggung jawab 100% terhadap keberhasilan karir kita. Dengan bersandar pada prosedur perusahaan, kita akan merasa bahwa “feedback” akan datang sendirinya, padahal, saat sekarang, masukan dan penilaian, perlu di kejar demi pengembangan diri. Kitalah yang perlu merancang, mengejar, menggapai, dan meraih kesempatan di dalam dan di luar organisasi.
Di masa sekarang ini, individu yang selalu mempunyai alternatif karirlah yang bisa lebih bebas membuat kesempatan bagi dirinya dan tidak melihat dirinya sebagai korban otak atik strategi manajemen SDM organisasi.
Setiap professional, apapun keahliannya, peril me-maintain, mengembangkan dan mengelola portofolionya, yaitu catatan mengenai keberhasilannya, daftar keahlian, dan pendidikan yang dikantonginya. Inilah sesungguhnya tambang emas individu. Kunci menebalkan portofolio adalah kita tidak pernah boleh lengah dalam meng-update ilmu. Kita tidak bisa hanya memikirkan “moving up” saja, tetapi perlu melihat ke dalam, selain juga senantiasa memperluas cakrawala ilmunya, bahkan kalau perlu menyerempet kesempatan dengan resiko yang lebih besar.
Employer sekarang, berbasis pengetahuan mengenai kompetensi, sudah tidak mudah terkecoh pada “kutu loncat” berimbalan besar, tetapi akan mengincar professional dengan kompetensi, kemampuan berkembang yang tinggi dan kualitas pribadi yang kuat, seperti kepemimpinan, hubungan interpersonal, dan kreativitas. Kompetensimindividu bisa berkembang dalam jalur-jalaur yang berbeda: spesialis atau generalis, bisa teknikal bisa juga manajerial, bisa “dalam”, bisa juga “luas”.
Mengenali kekuatan diri kita, memang bukan tanggung jawab orang lain. Kitalah yang paling tau, emas tipe apayang tertimbun dalam tambang kompetensi kita dan bagaimana menjualnya di pasaran.
Selamat berjuang dan jangan pernah takut dengan reformasi yang menuntut kompetensi dan keahlian.
Jumat, 17 Oktober 2008
How Could
Demikian juga pada saat kita membaca di surat kabar tentang seorang cacat yang dapat menciptakan suatu kreatifitas, yang keluar dari mulut kita pastilah luar biasa…. dan diakhiri, kok bias ya?
Kehebatan yang kita amati tersebut bias berdampak dalam berbagai tingkatan dalam kehidupan kita. Bias saja secara rasional, kita membahasnya, bahkan sampai detil, mengenai apa dan mengapa individu “hebat” bias melakukan hal-hal itu. Kita juga bias merefleksikan ke dalam diri kita dan menjawab pertanyaan “so what”. Bagaimana dengan diri kita? Tentunya yang terbaik adalah bila kita langsung membuat action plain kecil, lalu meniru sikap, cara atau kebiasaan, sehingga kita mendapatkan manfaatdari hasil pengamatan tersebut alias berubah.
Mudah untuk dikatakan, namun tak semudah itu untuk dilaksanakan. Mengapa?
Pertama: karna kita butuh optimis untuk bisa melakukan apa yang kita anggap luar biasa orang lain lakukan.self limiting statements yup itulah yang sering berputar di otak kita yang membatasi diri kita sendiri dalam lingkaran ketidakmampuan dan keterhambatan potensi. Tidka mungkin, mana mungkin, tidak bias, adalah kata2x yang kerap kita ucapkan di pertemuan2x, percakapan sehari2x, yang tanpa kita sadari dapat membuat kekuatan kita semakin berkurang.
Kedua : do it, give me a power. Belajar dari bisnis Walt Disney yang tidak ada habisnya, kita juga bisa mengadaptasi keyakinan mereka “if you dream it, you can do it. If you believe you can, you probably can. If you believe you wont, you most assuredly wont. Hanya dengan walk the extra mile saja, kita bisa tampil sebagai individu yang menonjol. Kita bisa bersikap lebih responsive, lebih cepat, tidak menunda-nunda, menyelesaikan sebelum diminta. Kalo orang bisa, kenapa kita tidak bisa?”
Ketiga: Belajar! Pada saat bayi belajr jalan, ia mulai mempelajari sikap ragu dan kata “tidak bisa” pernyataan ini bisa kita pelihara terus sampai mati, bisa juga kita hentikan. Kita bisa meyakinkan diri, bahwa mengungkapkan pernyataan “tidak bisa” adalah sebuah “kebiasaan”.
Kebiasaan tersebut harus digantikan dengan selalu memikirkan jalan keluar yang bisa kita control dan lakukan dengan kreatifitas kita.
Satu hal lagi yang perlu kita pelajari adalah dalam bekerja, lakukan lah hal-hal yang “gue banget” alias do it my way .
Dengan melakukan suatu tindakan dengan cara, gaya dan keterampilan diri sendiri, berdasarkan keyakinan diri dan potensi yang ada dan sesuai dengan prosedur yang ada, biasanya kita merasa lebih mantap melakukannya.
Jumat, 12 September 2008
mature = cool
Dari buku yang syaa baca KEMATANGAN yaitu : berpikir obyektif, berpikir positif, mampu mengendalikan dan menyalurkan emosi, bertanggung jawab, serta mampu membina hubungan interpersonal yang harmonis dan konsisten dalam waktu yang relative panjang.
Negara kita, atau organisasi yang ada di tempat saya memiliki banyak sekali SDM yang pintar, namun SDM yang memiliki kematangan itulah SDM yang baik untuk jadi pemimpin. Konon ketidakmatangan ini sering terlihat pada ketidakberanian calon pemimpin untuk mengambil keputusan, memaksakan pendapat, meng-abuse kekuasaan, serta ketidakmampuan membina hubungan antar manusia secara fair dan bertanggungjawab. Pada kenyataannya kita belajar bahwa pada dasarnya pendidikan dan kepintaran tidak selamanya berkorelasi dengan kematangan pribadi, terutama kalau individu mengembangkan fungsi-fungsi didalam dirinya secara berat sebelah, misalnya: banyak berpikir tanpa mengembangkan kepribadian dalam kehidupan sehari-hari di organisasi.
Kebanyakan orang, kematangan ditandai dengan kedewasaan yang diindikasikan dengan keberanian memasuki jenjang perkawinan, punya penghasilan sendiri, serta lepas dari bimbingan ortu. Pada saat situasi menekan, kritis dan beresiko, kita dapat menyadari bahwa respon individu sering menunjukkan ketidakdewasaan. Kita bisa menyimpulkan tidak bijaksananya individu disebabkan karena ia belum mencapai tingkat kematangan yang diharapkan baik oleh lingkungan maupun oleh dirinya sendiri.
Kenyataan yang perlu kita sadari adalah bahwa kematangan tidak diturunkan, bukan bawaan sejak lahir, tetapi benar-benar dipelajari dan dilatih. Selain itu kematangan dan ketidakmatangan juga bisa terkikis dan menular. Bayangkan betapa menyedihkannya bila seseorang yang sudah berangkat matang, kemudian merosot karena berada dilingkungan yang bobrok.
Kenyamanan lingkungan kerja sering membuat kita tidak berani keluar dari lingkungan tersebut, memelihara sikap kebal dan pengecut, bahkan mengembangkan sikap imaturitasnya sampai tua, dan hal ini sering terjadi. Tumpulnya kesadaran yang dipelihara sering menyebabkan ketidakmampuan individu untuk berdialog dengan hati nurani atau kata hatinya, sehingga ia kehilangan kacamata objektif dan positifnya dan memang dibutakan dari realitas.
Berbeda dengan prestasi, individu memang tidak bisa pamer kematangan dengan mudah, tetapi harus membuktikannya dengan tindakan teruji. Sikap obyektif, positif, bertanggung jawab dan matang emosi hanya bisa ditakar dalam hati. Bila seorang pemimpin ingin bersikap bijaksana, adil, dan fair, maka ia perlu menyelesaikan pergulatan dan konflik internalnya di dalam hati dan tidak menyatakan keras-keras….
Sabtu, 30 Agustus 2008
SEBUAH KOMITMEN
Sebuah organisasi mulai keliatan tidak efektifjika pegawainya sudah tidak lagi kompak satu sama lain. Contoh kasus : para pegawai berlomba-lomba untuk hadir bahkan ketakutan untuk tidak hadir dalam kegiatan atau meeting yang tidak berdampak langsung pada perkerjaan , memang tidak sampai saling memukul, saling menghina, ataupun saling tidak percaya satu sama lain. Secara kasat mata, hubungan antar personal keliuatan harmonis, namun bila perlu adanya koordinasi seperti pembenahan kantor ataupun kegiatan yang sifatnya non kritikal tetapi perlu dikerjain rame-rame, barulah terlihat bahwa komunikasi dan koordinasi seolah sulit sekali diatur dan diimplementasikan kedalam kegiatan yang terarah. Disinilah sesungguhnya kita menyaksikan ketidakefektifan sebuah organisasi.
Sering sekali kejadian dikantor yang diakhiri dengan komentar, ini Cuma masalah komunikasi kok. Kita lupa bahwa tidak efektifnya komunikasi merupakan dosa besar sebuah manajemen. Hasilnya pegawai tidak konek dengan misi dari kantor, tidak memahami bagaimana berperan atau berpartisipasi untuk misi kantor. Tidak efektifnya komunikasi ini bisa tidak terdeteksi lagi. Yang terlihat justru pada tidak komitmen nya setiap bagian, individu atau kelompok terhadap apa yang sudah dijanjikan atau direncanakan. Lebih parah lagi bila komitmen terhadap pekerjaan, waktu, kuantitas tidak bisa dinyatakan lagi.semua tindakan dan rencana hanya bersifat mengambang. Disinilah kita perlu waspada terhadap matinya spirit organisasi atau kantor karena sakitnya komitmen.
Menurut para ahli, komitmen sangat berbeda dari janji atau sekedar pelaksanaan kewajiban. Kewajiban berasal dari otoritas eksternal, sementara komitmen berasal dari dalam diri seseorang. Selain itu komitmen mengandung bobot yang jauh lebih tinggi, karena berkomit berarti menyadari dan bersedia menerima resiko tindakan yang sudah diputuskan untuk diambil oleh individu. Namun tanpa pengambilan resiko tersebut, komtmen akan terasa hampa, ringan tak bertenaga. Disini komitment justru memberi rasa pada kerja keras kelompok. Dalam sebuah kelompok kerja, komitmen akan terasa bila individu dalam kelompok mau tune in mendukung tindakan, bersedia untuk di tekan, siap bertanggung jawab terhadap tugas, dan bahkan ikut serta dalam menghandel masalah yang pasti muncul dalam mengembangkan tugas. Dari sini jelas kita melihat bahwa gejala ”lho kok saya”, atau ”bukan saya pak” tidak laku karena sikap defensif hanyalah pertanda bahwa komitmen individu tidak ada.
Beda tipis dengan kepatuhan dan kewajiban, komitmen adalah sepenuhnya pilihan individu. Individu yang memilih untuk komit biasanya sudah melalui proses pertimbangan terhadap kebutuhan dan visinya sendiri dan sudah yakin akan dampak sikapnya.karena itu biasanya individu yang memiliki komitmen tinggi bisa memberikan impact yang lebih besar di pekerjaan, lebih persuasif , lebih terbuka terhadap kemungkinan dan kritik. Pilihan prilaku yang diambil seseorang yang berkomitmen pun akan diarahkan pada dua hal yang sangat penting, yaitu mendukung dan mengembangkan, karena hanya dengan sikap seperti inilah organisasi dapat maju dan mencapai tujuan yang sudah sama-sama dipahami.
Rapat-rapat yang diikuti oleh orang-orang yang berkomitmen tinggi akan memakan waktu yang lebih singkat daripada bila individu peserta rapat ragu akan komitmen nya. Untuk membuat peserta lain hadir dalam tantangan yang sedang dibicarakan. Seorang ahli komunikasi membuat formula yaitu, bila setiap orang yang sedang berkomunikasi, yang sudah pasti harus dua arah, mengambil 51% tanggung jawab terhadap keberhasilan komunikasi dan follow upnya, maka komunikasi pasti akan dipenuhi oleh spirit komitmen yang utuh. Hanya dengan cara inilah kita bisa mengejar ketertinggalan dan menikmati pekerjaan.
Minggu, 24 Agustus 2008
KANTOR=TEMPAT BELAJAR
Keadaan yang begitu kompetitif dan terus berubah, dimana akses informasi menjadi sangat berlimpah dan terbuka, kita semua makin sadar bahwa hanya individu dan organisasi yang senantiasa belajar yang bisa survive. Sekedar mengadakan diklat atau training atau beasiswa , nyata-nyata tidak langsung membuat organisasi atau kantor menjadi learning organization. Sebuah lembaga pemerintahan bergengsi secara terpogram mengadakan beasiswa bagi pegawainya untuk meningkatkan gelar pendidikannya ke jenjang S1, S2, bahkan sampai ke jenjang PhD dan sangat sering mengadakan diklat atau traning, tetapi belum dapat digolongkan sebagai learning organization karena budaya budaya belajarnya tidak keliatan dari luar dan tidak terasa di dalam.
In a learning organization, when one of us gets smarter, we all can gets smater. Ternyata dalam sebuah organisasi atau instansi tidak semua orang harus belajar, tetapi proses pembelajaran akan menular tanpa terasa dan perlahan tapi pasti pencerdasan sudah mencapai tingkat yang lebih tinggi tanpa perlu formalitas belajar secara harafiah. Bisa kita bayangkan jika dalam sebuah organisasi atau instansi, proses pembelajaran formal dan non-formal yang sudah diupayakan mati-matian masih sulit terlaksana, bagaimana nasib sebuah Negara yang tidak serius mendesain proses pembelajaran bangsa?
Dalam organisasi atau institusi setiap individu harus menampilkan sikap tidak pelit ilmu dan juga menyakini bahwa kompetensi seperti sikap, nilai, dan keterampilan juga bisa ditularkan pada orang lain. Suasana dalam organisasi sebagai pembelajar tidak muncul dalam suasana belajar intensif, namun lebih tampak pada diskusi seru, komunikasi intensif, keinginan untuk updating, serta rasa haus akan kesempatan belajar. Pertanyaan-pertanyaan seperti :”darimana kamu dapat ide itu?”,”bagaimana sih caranya?”.”bagaimana kalaua..”, berkumandang dalam rapat0rapat yang membuat setiap orang di kantor seperti berada dalam sebuah laboratorium besar yang tiada hentinya menyambut tantangan yang berasal dari masalah dan kesempatan yang terlihat. Kegagalan atau hampir gagal dan kesuksesan dilapanganlah yang menjadi focus untuk memperoleh “lesson learned”, bukan semata teori.
Organisasi bisa berharap menjadi organisasi pembelajar, bahkan mengeluarkan banyak uang untuk mendukung pelatihan dan bentuk program pembelajaran lainnya, tapi kalau suasana kerja tidak customer friendly, kaku, tidak mampu melakukan komunikasi yang menembus divisi, doyan berpolitik, berprilaku tidak sejalan dengan misi organisasi alias penuh birokrasi dan masih sibuk mementingkan kebutuhan pribadi, semua upaya akan percuma.organisasi pembelajar akan tercipta hanya bila suasana kerja mendorong pengembangan pribadi dan personal mastery secara utuh, menyemangati kerja tim, memberi kesempatan untuk problem solving dan mengupayakan evaluasi yang jujur dan tulus.
Beberapa orang berpikir bahwa kita harus mencari waktu secara khusus untuk mempelajari, menganalisa atau memikirkan sesuatu. Bahkan ada yang berpikir :”ah, belajar hal baru itu tidak penting. Biarkan yang muda-muda saja yang mempelajarinya.” Sikap layu” inilah yang merupakan cikal bakal kesulitan terbangunya spirit belajar dari organisasi.
Kita lihat bahwa dalam pembelajaran di tempat kerja, dosis action dalam proses belajar memakan hampir seluruh materi pembelajaran. Perencanaan target dan tujuan, mutasi, promosi jabatan, dan kerjasama lintas instansi justru merupakan kegiatan belajar yang terpenting. Saat semangat belajar, memperbaiki diri, dan berubah sudah bangki dan berapi-api, barulah kemudian pelatihan dan program beasiswa bisa lebih efektif sebagai tindak lanjut.
Rabu, 20 Agustus 2008
POLITICALLY SAVVY
Politik kantor yang sering ditanggapi orang dengan sikap alergik pada kenyataannya tidak pernah punah, bahkan merupakan realita. Kita sering tidak bersimpati pada orang yang sok bener terutama di depan atasan bahkan tega menyingkirkan semua orang yang dianggap tidak benar, apalagi membahayakan kedudukannya.
Mengapa permainan politik seperti ini seringkali menjengkelkan orang-orang yang di luar permainan? Menurut ahlinya, politik kantor ini menjadi nyata pada unit organisasi atau kantor yang kekuatan SDM nya tidak seimbang.
Untuk bisa survive dilingkungan kantor atau organisasi, kita memang perlu kuat dan berakar, serta tahu apa yang kita mau. Kita bisa menyasar hal-hal material, kita bisa juga mementingkan karir, kinerja, dan peningkatan kompetensi, sementara orang lain ada yang memburu keterlibatannya dalam kelompok tertentu, power atau control terhadap situasi. Namun, berdiam diri, dan berharap bahwa segala sesuatu dapat berjalan sesuai dengan system yang ada memang hampir tidak mungkin. Kita perlu tahu dimana pusat kekuatan, siapa orang yang berpengaruh, dan bisa mempengaruhi lingkungan social. Kita pun bisa melicinkan upaya kita melalui pendekatan, sepanjang kita bersikap fair, tidak manipulatif, dan curang, me-lobby, mempersuasi, dan berpolitik memang harus dilakukan. Sifat negative seperti yang kita kenal :menyembah keatas, menendang kebawah, tentunya adalah
Jejaring pertemanan yang berdasarkan kedekatan masa kecil, almamater, kesamaan pandangan maupun idiologi biasanya merupakan lahan berpolitik, baik di perusahaan maupun organisasi. Sama seperti strategi perang, berpolitik pun memerlukan pemetaan dan perencanaan yang mapan. Dari pengamatan para ahli, orang-orang kuat dalam organisasi biasanya memang bukan tidak berstrategi, mereka juga politically savvy. Orang-orang ini tahu bagaimana berhubungan dengan atasan, bahkan mendukung agar atasannya sukses. Bersamaan dengan upaya itu, seorang yang tahu berpolitik pasti berupaya selalu tampil di rapat-rapat penting, tahu mendekati orang-orang kunci, menunjukkan corporate manners yang baik, dan menampilkan kemampuannya sebagai team player.
Dalam organisasi apapun, kita hanya bisa eksis bila mempunya kontribusi yang signifikan. Bila kita amati orang yang pandai me-lobby dan berpolitik, sementara produksinya kosong, maka orang ini lambat laun tidak bisa meneruskan karirnya. Kekuatan kita dalam berproduksi merupakan modal agar kita bisa di perhitungkan dalam peta social organisasi. Individu yang produksinya diatas rata-rata tinggal mengasah cara berinteraksi, berapat, mendekati atasan, dan orang-orang kunci, serta membuat diri lebih diperhitungkan dengan berusaha lebih bermain fakta, membina hubungan emosional yang sehat, berusaha menonjolkan orang lain, tanpa lupa memunculkan diri sendiri. Kontribusi yang sudah kita tunjukkan jangan sampai dikotori dengan mempraktekkan cara gaul murahan seperti bergosip, menekan, menyalahgunakan jabatan, mencari muka tanpa alas an.
Selasa, 19 Agustus 2008
ADA APA DENGAN OTAK KU
MENGAPA MEMORI OTAK KITA HILANG?
Menurut ahli saraf dari Fakultas Kedokteran Universitas
1. Kekurangan makanan. Asupan yang baik untuk kesehatan otak kita adalah makanan yang mengandung omega-3, vitamin C dan E sebagai sumber anti oksidan, vitamin B Komplek, float, hingga ginkgo biloba, jika otak kita memang sudah bermasalah.
2. Banyaknya radikal bebas. Sementara antioksidan dalam tubuh kita kurang.
3. Stress yang membuat produksi hormon kortisol meningkat. Tingginya kortisol ini akan merusak metabolisme sel, sehingga mitokondria atau sel yang disebut juga sel energi, menjadi mati.
4. Cidera kepala yang berakibat pada rusaknya jaringan otak.
5. stroke. Strokre sangat potensial merusak cortex manakala, peredaran darah ke cortex terhambat dan lokasi perdarahan (stroke) terjadi di cortex. Juga harus diperhatikan sebesar apa (kuantitas) jaringan yang rusak. Jika gumpalan darah yang terjadi lebih dari 1000 ml3, maka akan ada gangguan ingatan.”kata Dr. Jan.
6. Akuilah, anda semakin tua.
BAGAIMANA ALKOHOL MEMPENGARUHI MEMORI OTAK KITA.
Sebelum zat itu memukul kepala kita, ketahuilah bahwa terlalu banyak meminum alkohol membuat kita menderita amnesia sementara. Minuman itu akan menganggu kemampuan hippocampus untuk mengolah memori, dikenal sebagai blackout.
Alkohol merupakan toksin yang bukan hanya mempengaruhi hippocampus tapi juga jaringan-jaringan lain di otak. Alkohol dan zat-zat adiktif lainnya, membuat kerja reseptor di otak tidak maksimal. Pada kasus ketergantungan alkohol atau narkotika, akan terjadi kerusakan pada sel-sel otak yang berimbas pada kerusakan reseptor.
Tapi otak kita memang misteri. Terlepas kita seorang alkoholik atau social drinker, memori yang tidak hilang bisa sangat sulit diingat kecuali kita mulai minum lagi dan otak kita tersandung pada apa yang disebut state dependent. Bila kita mengolah memori dalam keadaan yang spesifik, seperti mabuk, kita kemungkinan mengingatnya lagi ketika kita berada dalam keadaan mabuk juga.barangkali ini yang membuat musisi-musisi kita di era 80 an mabuk sebelum manggung.
BUAT OTAK KITA BERPIKIR LEBIH CEPAT DAN MENGINGAT LEBIH LAMA
Caranya mudah dan sangat sederhana. Kita cukup menghindari hal-hal atau komponen yang bisa merusak otak, antara lain :
1. Menghindari metabolisme otak yang terlalu tinggi , misalnya stress yang berlebihan. Stress adalah racun, karena itu kita harus mencari kompensasi dari stress seperti mendapatkan udara yang bagus, mendapatlkan makanan yang bagus.
2. Mengindari bahan-bahan dari luar yang bisa merusak otak, makanan yang banyak mengandung logam, zat-zat adiktif yang mempengaruhi sistem neurotransmiter dsb.
3. melatih otak. Banyak membaca dan berbicara, main catur, mengisi teka-teki, mendengarkan musik, berkesenian, dan olah raga. Olah raga banyak mengaktifkan komponen tubuh termasuk otak.
HANYA KARENA KITA TIDAK BISA MENGINGAT SUATU PERISTIWA, NAMA, ATAU WAJAH SESEORANG, BUKAN BERARTI INFORMASI ITU SUDAH LENYAP DARI OTAK KITA.
Senin, 18 Agustus 2008
MULAILAH BERPIKIR KRITIS
Pada saat harga BBM naik, yang melibatkan protes mahasiswa, DPR, badan eksekutif, dan masyarakat banyak. Apa artinya semua ini?
Pastinya demokrasi. Kita bisa beranggapan bahwa generasi muda sudah memiliki kemampuan berpikir yang advanced.
Good thinking is an important element of life success in the information age.
Menurut saya kegiatan berpikir adalah kegiatan yang mulia dan merupakan anugerah Tuhan yang paling besar bagi manusia, karena tidak ada mahluk lain di dunia ini yang bisa berpikir dengan cara secanggih manusia.dengan kemampuannya berpikirlah manusia dapat menggambarkan isi dunia ini. Dna dengan adanya pemikiran-pemikiran yang sudah di uji oleh masyarakat, kita bisa yakin bahwa bangsa kita sudah mengalami kemajuan dalam proses berpikirnya.
Aturan yang diajarkan orang tua kita dulu untuk tidak membantah, berdebat untuk menjunjung harmoni, kita sadari menjadi penyebab tidak suburnya cara berpikir kita.
Kesempatan untuk menumbuhkan dan mematangkan keputusan dan konsep justru dari diadunya pendapat kita dengan kritik, pertanyaan, keraguan orang lain, bahkan setelah perdebatan sengit. Yang paling penting, sikap mental juga perlu kita siapkan untuk memberi dan menerima kritik dan sanggahan.
Disini, kitapun harus mawas diri bahwa kita sering terjebak berselisih paham, karena kita tidak sealiran atau tidak menyukai individu yang berpendapat.
Sikap asbun (asal bunyi) sering juiga disebut asal ngomong, tanpa berlatih bertanggung jawab terhadap tindak lanjut pendapatnya, malahan bisa menjatuh
Namun demikian, masih banyak kita temui orang yang berpendapat tapi tidak bertanggung jawab.Pernyataan yang di lempar tanpa di follow up, akan menyulitkan orang lain jika tanpa diserta dengan tanggung jawab untuk mencari solusi bukanlah seorang pembuka diskusi yang sehat. Orang yang ingin masuk ke dalam kancah perdebatan intelektual, perlu berlatih mencermati gejala, tulisan tindakan atau keputusan dengan hati-hati dalam berusaha mendapatkan inti dari isu tersebut.seruan “turunkan BBM”, “turunkan sembako”, akan lebih intelek bila yang berseru telah mempelajari , apakah gejala kenaikan BBM ini melulu disebabkan oleh korupsi atau gejala yang mendunia. Kita pun perlu membedakan fakta dari pendapat, kasus dari gejala umum, membersihkan bias, selain tidak berpikir “hitam putih” saja, dan membuka diri terhadap segala kemungkinan yang kita sebelumnya tidak tahu.
Manusia, tidak terlepas dari berapa usianya, sering tidak menyadari kesalahan berpikirnya.
Mudah-mudahan dengan tulisan diatas kita maju dan jadi pintar sambil tetap perlu memiliki ruang untuk berpikir inovatif dan kreatif.
Sabtu, 16 Agustus 2008
SEKILAS INFO BUAT TEMEN2X PEGAWAI DITJEN. PERBENDAHARAAN
Kita semua tahu bahwa dana pemerintah selama ini disimpan di Bank Indonesia.
Tgl 30 mei 2008 seperti yang saya kutip dari surat kabar Kompas bahwa Gubernur BI (Boediono) akan membahas dengan Menteri Keuangan (Sri Mulyani Indrawati) mengenai besaran bunga yang akan diberikan kepada dana pemerintah yang disimpan di BI.
Ternyata dana pemerintah yang disimpan di BI cukup besar dimana jika diberikan bunga berbasiskan suku bunga sertifikat BI akan dapat menambah penerimaaan negara kita.
Waduh berarti cukup lumayan juga..
Menurut Boediono besaran bunga yang diberikan nanti akan mempertimbangkan kredibiltasneraca BI. Ini perlu agar pembayaran bunga tersebut tidak memberatkan neraca BI.
Jika neraca BI dibebani pembayaran bunga terlalu besar, kredibiltas BI sebagai otoritas moneter bisa dipertanyakan pelaku pasar modal dan sektor riil.
Sebaliknya, di sisi pemerintah, bunga itu sangat penting dalam menambah penghasilan negara.oleh sebab itu, permintaan yang disampaikan pemerintah cukup beralasan.
Menteri Keuangan telah mengupayakan agar dana pemerintah yang disimpan di BI bisa menjadi salah satu sumber penerimaan negara. Jumlah dana yang disimpan dalam Rekening Bendahara Umum Negara (BUN) terus berubah setiap harinya.
Adapun dana yang disimpan di rekening penempatan merupakan dana yang biasa disimpan oleh Bendahara Proyek di semua Kementerian dan Lembaga Non Departemen.
Setiap Bendahara rata-rata menyimpan Rp. 100 Juta sehari. Jika rata-rata Bendahara menyimpan Rp. 100 Juta dan jumlah Bendahara 21.000 orang, total dana yang disimpan di rekening penempatan Rp. 2,1 Triliun per hari. Dana ini akan mendapatkan bunga yang berbasiskan suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (BI) tiga bulan.
Direktur Jenderal Perbendaharaan Depkeu mengatakan, pemerintah pada dasarnya ingin bunganya tinggi. Sementara BI ingin agar bunganya minimal karena bisa mempengaruhi surplus dalam neraca mereka. Ini yang belum tuntas hingga sekarang.
Hidup Departemen Keuangan!!!
DATA KAS PEMERINTAH
| *Per 31 Desember 2007 dan 2006 | (dalam rupiah) | |
| Uraian | 31 Desember 2007 | 31 Desmeber 2006 |
| Rekening Kas BUN di BI* | 18.170.046.148.742 | 954.310.836.789 |
| Rekening Kas di KPPN | 5.492.896.654.079 | 20.594.618.632.501 |
| Rekening Pemerintah Lainnya di BI | 3.248.408.392.480 | 12.331.109.271.481 |
| Kas di Bendahara Pengeluaran | 1.245.221.273.097 | 1.457.362.551.679 |
| Kas di Bendahara Penerimaan | 878.054.836.115 | 429.489.122.788 |
| Kas di BLU | 444.767.605.022 | - |
| Kas di Trust Fund | 0 | 2.425.944.284.122 |
| Jumlah Kas dan Bank | 29.479.394.909.535 | 38.192.834.699.360 |
| * Uang yang mendapatkan bunga adalah uang yang disimpan di Rekening Kas BUN dan di BI. Sumber : Laporan Keuangan Pemerintah Pusat Tahun 2007 (hasil audit) | ||
Selasa, 12 Agustus 2008
STOP BEROLOK-OLOK ! ! ! !
Saya baru sadar betapa bangsa ini gemar berolok-olok dan mencerca bangsa sendiri.
Ketika dalam salah satu blog seseorang yang membahas mengenai olok-olok, ditanggapi dengan sahabatnya dengan ungkapan,”bukannya bangsa
Ironisnya, olok-olok ini sesungguhnya bisa membuat kita terjebak pada self-fulfilling prophecy, yaitu terdorongnya situasi atau perilaku baru melaui perkataan, pikiran atau keyakinan kita sendiri. Ungkapan-ungkapan seperti “kita ini bangsa yang bodoh”,”otak orang Indonesia paling segar, karena tidak pernah dipakai’”,”pemberantasan korupsi tidak akan pernah tuntas”, karena tidak diikuti oleh tindakan,action plan pribadi, kelompok maupun institusi secara jelas, malah bisa membuat kita sendiri frustasi dan malah memaki diri sendiri, bahkan melahirkan ‘lingkaran setan’ yang dibuat oleh keyakinan itu sendiri. Dikarenakan kemalasan dan tidak teganya kita memaki diri sendiri, maka olok-olok lah yang kita lontarkan pada pihak lain, dalam hal ini organisasi, lembaga pemerintahan, ataupun Negara sendiri.
Tertawa dan bercanda bersamaa adalah cara manusia untuk mempererat hubungan. Bayangkan betapa runyamnya hidup seseorang yang tidak pernah tersenyum atau tertawa. Tersenyum dimulai dari adanya koneksi yang menunujukkan daya tarik interpersonal, sementara tertawa dimulai dari kemauan individu untuk melihat sisi lucu dari sesuatu yang kasat mata.
Hanya pada saat individu berkembanglah, ia bisa mempunyai prespektif terhadap hal yang tidak kasat mata, lebih abstrak, dalam, dan melihatnya dari sudut pandang lucu, gembira, dan tidak sendu ataupun serius.
Orang yang banyak tertawa memang cenderung lebih happy dan optimistis. Namun tertawa, baik mengenai diri sendiri atau terhadap suatu situasi tentunya tidak berlaku bila tawa itu diwarnai dengan sinisme yang berlebihan ataupun pelecehan ke orang lain, apalagi ke diri sendiri.
Olok-olok yang sering kita dengar, terutama akhir-akhir ini, rasanya sulit digolongkan pada olok-olok yang sehat, karena ia terasa getir, sinis bahkan tidak menunjukkan esteem atau penghargaan diri. Orang yang ber-esteem rendah kita kenal sebagai orang yang mempunyai kebiasaan untuk menilai negative diri sendiri, tidak menyukai tantangan, malas bertindak, dan banyak tampil sebagai pengkritik tajam bahkan melecehkan orang lain. Tentunya kegiatan ini bukan bercanda lagi, apalagi disebut “sense of humor”.
Marilah mulai bangkit dengan membuat daftar sukses, apakah itu keberhasilan mengendarai mobil, menyelesaikan satu kerjaan dengan baik dan tepat waktu, lulus program beasiswa dari kantor, berhemat 100 ribu rupiah, ataupun sekedar keberhasilan untuk dating ke kantor tepat waktu. Dengan bersyukur, kita memupuk kualitas positif dan kompetensi sebagai modal kita.selanjutnya, mari kita hidup sesuai dengan tuntutan yang realistic dan tidak lupa untuk bertindak!
Tetap bersyukur dalam segala hal.
Senin, 11 Agustus 2008
6 Langkah Sukses Meniti Karir
Semua Pasti ingin memiliki jenjang karir yang menjanjikan masa depan cerah.
Untuk meraihnya, tentu saja dibutuhkan usaha dan pengorbanan yang cukup besar.
Beberapa tips berikut ini mungkin dapat membantu kita untuk mencapai jenjang karir yang diinginkan :
1. Berdedikasi Tinggi
Untuk mewujudkan cita-cita akan karir yang terus berkembang, diperlukan daya juang dan dedikasi pada institusi yang tinggi.Usahakan jangan berdedikasi jika hanya ingin mendapatkan promosi jabatan atau mutasi semata. Lakukan semua pekerjaan dengan disiplin yang tinggi. Bila perlu disertai dengan prestais yang menonjol dibidang yang anda geluti.
2. Berinisiatif
Jangan ragu untuk melontarkan ide dan inisiatif. Tunjukkan pula hasil karya dan penyelesaian tugas anda, kerjasama dan komunikasi yang memuaskan semua pihak.
3. Menambah Ilmu dan Pengetahuan
Tingkatkan kepercayaan diri dengan memperbanyak ilmu dan keterampilan yang relevan dan signifikan agar dapat memberikan hasil karya yang memuaskan.
4. Tidak GapTek
Di zaman yang serba canggih ini, ada baiknya jika anda menguasai teknologi internet, penggunaan software tertentu dalam proses kerja di kantor anda, dan teknologi yang relevan dengan kompetensi khusus.
5. Jalin Kerjasama dengan Unit-Unit Terkait
Pekerjaan yang kita lakukan sehari-hari pasti terkait dengan unit kerja lainnya. Oleh karena itu, ada baiknya jika anda menunjukkan sikap bersahabat, serta menghargai bantuan atau karya orang lain. Lakukan juga hubungan komunikasi yang baik dengan sesama staf maupun atasan. Jangan lupa untuk mengucapkan kata terima kasih atas bantuan dan kerjasama mereka.
6. Selalu Menjaga Sikap
Sebuah kantor yang berkualitas tentunya menuntut pegawainya untuk selalu menjaga penampilan diri, serta kesopanan dalam tutur kata. Ada baiknya jika anda selalu menyesuaikan cara berpakaian dengan budaya kantor yang berlaku. Terlebih sikap ramah, tersenyum, dan sopan yang selalu ditunjukkan dalam perilaku kerja.
semoga berguna dalam mengembangkan karir teman-teman...
c u...
Sabtu, 09 Agustus 2008
9=kesempurnaan
9 artinya kesempurnaan...
gak tau kenapa pada saat brow,ngeliat arti2x angka...
teringat aku br aja ngerjain kerjaan ktr ngadain training 9 angkatan non stop man..(kek bis jarak jauh aja ya)..
dari bulan maret s.d.juli 2009 di treasury learning center jakarta
tepatnya deket bgt ma sarinah...
para peserta di inapkan di hotel cemara (secara hotel itu dah kek rumah sendiri aja) kebayang dunk 3 bulan wara wiri
kebayang gak capeknya?diikuti oleh 560 pegawai seindonesia yang dibagi menjadi 9 angkatan de
tapi itulah kegiatan yang paling fun n menantang selama aku di jakarta...
seru bgt...
aku bisa banyak kenal kakak kelas dan adik kelas yang ada di seluruh indonesia yang efeknya bisa menambah pergaulan man..
dan yang paling penting selama 9 angkatan itu berlangsung ada pertemenan yang terjalin semakin erat (bos aku, bos sebelah aku, n of course mbak AA)
wanita ini salah satu temen aku yang inspiring bgt buat aku...
u r d best one deh...
kami semakin akrab n saling mengerti satu sama lain, jadi suasana ktr asik.
selamat buat temen2x yang udah ikut diklat ya...
selamat balik ke ktr asal...miz u all...
suatu saat kita pasti ketemu lagi di training berikutnya..
B A K ist the best deh...
Jumat, 25 Juli 2008
Work is Where You Play...
Work Is Where You Play
Terjemahan bebasnya, bekerja dan bermain itu mestinya menyatu, di sinilah tempatnya. Tetapi saya ragu,mungkin yang ditawarkan oleh iklan ini sekadar promosi gedung yang dianggap mengasyikkan, bukannya kualitas dan jenis pekerjaan sebagaimana pesan judul di atas. Ciri bermain adalah adanya antusiasme untuk meraih prestasi dengan insentif kepuasan emosional, bukannya material.
Orang yang asyik bermain akan lupa waktu.Perhatikan saja para pemain bola kaki, tenis, atau golf, rasanya waktu masih kurang begitu permainan dinyatakan berakhir.Terlebih pada golf, selalu saja ada nafsu untuk memperbaiki kekurangan dan kesalahan yang telah diperbuat agar tidak terulang pada hole berikutnya atau permainan di hari lain.Andaikan suasana kerja seantusias bermain,pasti perusahaan dan negara tak akan bangkrut. Tentu saja bermain hanyalah selingan dalam hidup.
Hidup mesti diisi kerja produktif. Salah satu yang membuat semangat dalam bekerja adalah insentif gaji. Tetapi hubungan semangat kerja dan gaji tidak selalu memiliki korelasi positif, terutama di kalangan pegawai negeri sipil tingkat bawah, sehingga populer istilah PGPS, pinter-goblok penghasilan sama. Yakin bahwa jumlah gaji tak bertambah sekalipun kerja meningkat, maka gaji bulanan lama-lama kehilangan daya dorong untuk membuat seseorang bekerja lebih kreatif dan produktif.
Yang menyedihkan, mereka yang memiliki jabatan lalu menciptakan dan mengejar insentif di luar gaji-yang sejak awal kebijakan itu diatur sedemikian rupa sehingga yang terjadi tak lebih sebagai praktik korupsi terselubung. Bekerja dengan cara demikian ibarat permainan, mereka bermain kotor, curang, dan kalaupun menang puasnya semu.Sebuah kemenangan bohong-bohongan.
You Are What You Do
Harga diri seseorang akan terbentuk dan terukur oleh hasil karya. Bekerja adalah dorongan, tuntutan, dan kebutuhan manusia sebagaimana makan, bernafas, ataupun tidur. Kerja adalah kebutuhan eksistensial.
Bayangkan bila dalam seminggu hari kerja hanya dua hari, selebihnya menganggur, pasti tidak membuat manusia bahagia. Menganggur, tidak ada aktivitas dan penghasilan, akan menggerogoti harga diri dan kebahagiaan. Kebahagiaan hidup diraih dengan kerja produktif yang bermakna bagi orang lain. Yang paling ideal adalah jika seseorang bisa menyatukan antara hobi dan bekerja yang sekaligus mendatangkan insentif uang dan penghargaan masyarakat.
Kerja semacam itu pasti menggairahkan sebagaimana kita bermain atas dasar hobi, namun mendatangkan uang dan menggembirakan orang lain. Dalam konteks ini adalah para pekerja seni yang mendekati kriteria dimaksud. Bercampur antara bermain, bekerja, dan menghibur orang lain. Karena itu, pemain piano yang sedang manggung dan bermain secara total, misalnya, ketika sudah hanyut dalam permainan bisa lupa apakah permainan itu ditonton orang atau tidak.
Dia tidak peduli. Begitu juga atlet sejati. Tidak lagi ada batas antara bekerja dan bermain serta aktualisasi diri. Bintang sepak bola dunia begitu turun ke lapangan bagaikan penari naik panggung,atau perenang masukkolam, merekalebursecara total ke dalamnya,tak lagi memikirkan insentif uang.
Makanya ada nasihat,kalau Anda sedang bertanding tenis, misalnya, fokus dan leburlah dalam permainan,jangan seringsering melihat papan nilai karena akan merusak permainan. Orangyangfokuspada insentif akan menomorduakan pekerjaan,tetapi jika seorang profesional berkarya secara optimal, insentif akan mengejar dan melayaninya.
Mengubah Makna Kerja
Orang yang bekerja tanpa skill dan hati, akan membuat ruang kerjanya berubah menjadi ruang tahanan sehingga judul di atas berubah menjadi: Work is Where You are Becoming a Prisoner.
Bekerja tanpa skill, spirit pengabdian, dan cinta pada profesi akan terasa sangat melelahkan, bahkan menyiksa. Begitu masuk ruang kerja, Anda tiba-tiba secara psikologis masuk ruang tahanan. Padahal rumus yang ideal: 9 to 5 is a happy hour. Situasi inilah yang mungkin dinikmati oleh para pekerja seni dan atlet profesional.
Mestinya, jenis pekerjaan apa pun bisa diubah atau diciptakan sebagai aktualisasi diri yang mengasyikkan sehingga seseorang bekerja melebihi jatah waktu dan target. Hidup,berkarya,dan bermain dikondisikan agar menjadi satu paket, three in one. Bukankah hidup itu sendiri sebuah anugerah Tuhan yang harus dirayakan dengan kerja kreatif, produktif, dan konstruktif?
Dengan semakin majunya teknologi modern, sekarang ini sangat memungkinkan menciptakan suasana kerja lebih nyaman dan menyenangkan tanpa mengurangi produktivitas. Lebih dari sekadar tempat bekerja,suasana kantor mestinya juga diubah agar menjadi suatu komunitas eksklusif dengan aura kekerabatan dan pertemanan yang semuanya tetap memiliki komitmen menjaga etika profesionalisme.
Orang yang bekerja namun tidak memiliki kebanggaan dan kepuasaan atas hasilnya disebut "alienated person", yaitu pribadi yang tercerabut dan tersingkir dari apa yang dia lakukan. Lebih parah lagi kalau seseorang benci pada pekerjaannya, lalu berkembang pada lingkungan sosialnya.Orang itu akan mengalami kepribadian yang terbelah dan lebih jauh lagi bisa disebut sakit mental.
Jika tidak bekerja takut akan bayang-bayang pengangguran, jika tidak bekerja tidak akan memiliki penghasilan tetap, sementara kalau masuk kerja juga merasa tersiksa. Inilah yang dimaksud teralienasi, saat seseorang tidak lagi menjadi tuan bagi dirinya sendiri. Dengan bekerja manusia menjadi dirinya dan menjaga martabatnya.
Coba renungkan. Tuhan memberikan semua fasilitas yang terhampar dan tersimpan di bumi, lalu manusia dianugerahi organ tubuh yang sangat canggih serta pikiran yang sangat hebat. Untuk apa semua itu jika tidak untuk berkarya memakmurkan bumi dan berbagi kasih sayang serta kebajikan dengan sesamanya? Demikianlah yang selalu diulang-ulang oleh Alquran, bahwa anjuran beriman mesti selalu dikaitkan dengan perintah amal saleh.
Yaitu perbuatan yang benar, baik,dan berguna.Ajaran ini akan dijumpai pada semua agama. Ciri orang yang beriman adalah mereka yang selalu berkarya di jalan yang benar dan baik,untuk tujuan kebenaran dan kebaikan. Tetapi bekerja sekadar benar dan baik belumlah cukup. Mesti ditambah nilai keindahan. Banyak pekerjaan yang benar dan baik, tetapi belum tentu indah. Tanpa keindahan, kehidupan akan terasa kering. Tanpa kerja produktif, seseorang juga akan kehilangan harga diri.
Jangan bayangkan seseorang akan merasa bahagia dengan mengandalkan warisan orangtua tanpa yang bersangkutan memiliki keterampilan kerja. Berulang kali saya bertemu pemuda yang merasa dirinya kaya, secara ekonomi berlimpah, namun hidupnya tidak bahagia karena tidak memiliki keterampilan dan kepandaian yang dibanggakan.Dia hidup bersama keluarganya dengan harta warisan orangtua yang telah meninggal.
Dihatinya dia merasa iri dan malu terhadap teman sebayanya yang bisa bekerja secara profesional dan hasil karyanya mendapat penghargaandari masyarakat. Jadi,kerja,harga diri,dan kebahagiaan saling terkait, isi mengisi. Menjadi persoalan ketika bekerja secara terpaksa karena tidak ada pilihan lain. Yang demikian ini dialami oleh banyak penduduk Indonesia.
Langkah pertama adalah mengembangkan keterampilan dan mencari pekerjaan yang cocok dan disenangi, entah di lingkungan lama ataupun yang baru.Kedua, jika kondisi eksternal tidak bisa diubah, maka seseorang harus mengubah kondisi internal, yaitu belajar mencintai pekerjaan yang tersedia.
Namun di atas semua itu, seseorang akan merasa bermakna hidup dan aktivitasnya kalau memiliki niat dan pandangan hidup yang mulia bahwa hidup adalah festival yang harus dirayakan dan hidup adalah anugerah yang mesti disyukuri serta dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan. Kalau kita bekerja semata mengharapkan insentif material-duniawi, bersiaplah untuk kecewa. Kebaikan orang biasanya bersyarat dan terbatas.
Orang cenderung memikirkan dirinya sendiri dan enggan berkorban serta memberi berlebih pada orang lain kecuali ada kalkulasi untung-rugi.Kecuali mereka yang benar-benar menghayati bahwa kemuliaan dan kebahagiaan itu justru terletak dalam mencintai dan memberi, bukannya meminta dan mengambil, sebagai rasa syukur pada Sang Pemberi Hidup.
Jadi, berbahagialah mereka yang berhasil mempertemukan: bekerja, bermain, beramal saleh,bermasyarakat dan mensyukuri hidup.I work, therefore I am; bukannya,I have therefore I am. Eksistensiku ditandai dengan karyaku,bukan karena hartaku.(*)
Jumat, 06 Juni 2008
Konsiyering? Takut......
kok takut?
secara di milis heboh membahas "konsiyering...apa perlu?"
eh tiba2x Divisi gw buat konsiyering tuk membahas Kegiatan yang akan dilaksanakan tiga bulan kedepan untuk mengantisipasi numpuknya Kegiatan diakhir tahun.
duh mudah2x an Konsiyering kami ini gak disorot milis...
secara kami mang bener2x konsiyering.
eh...eh... tiba2x koordinator akomodasi ngomong kalo konsiyeringnya di bogor n u know di Hotel Seruni,..
at the moment gw biasa aja, secara gw belum tau hotelnya.
Begitu tiba di Hotel Seruni.. WOW... its a beautiful hotel..
Spontan bakat marketing gw keluar.. angkat hp kring sana kring sini tuk ngasi tau kalo hotelnya keren bgt...
tak lupa sebelum mulai kerja gw sempatin dulu tuk nyicipin kolam renang nya yang cozy abis... n tak lupa Jacuzinya.
selesai kerja, kita rame2x makan sate PSK di puncak, n then go to bed.
Besoknya(tepatnya hari kedua) kita lanjutkan pembahasan kita lagi...(tapi sebelumya gw renang lagi...norak ya..)
tengah hari rampung lah sudah kerjaan kita dan siap untuk direalisasikan.
Tak lupa gw renang lagi tuk terakhirnya, secara ya kita harus memaksimalkan fasilitas yang udah kita bayar (pasti pada setuju kan?)
Dan seperti biasa tibalah waktu beres2x perlengkapan n juga barang2x pribadi... n go back to jakarta fokr the next duty which be done in sincerely and bersyukur...... c u in next duty...
Jumat, 21 Maret 2008
palembang,bali,magelang,manado...
Palembang, Bali, Magelang n Manado adalah tempat2x yang pernah ku datangi untuk sebuah tugas...dan itu semua di tahun 2007... tiba2x aja di long weekend ini aku teringat dengan semua perjalanan ku di tahun 2007.. banyak kenangan, ada yang lucu,sedih n tragis... long weekend yang ku isi dengan browsing n nonton tv membuat ku ingin menuangkan perjalanan ku di taon 2007 itu ke dalam blog ini..
di palembang, ketemu temen dulu waktu penempatan di medan,dan tentunya makan empek2x yang terkenal dipalembang
di Bali... bareng kepala seksi, top bgt (top banget)....habis kerja, kami jalan ke pantai kuta, makan bebek, n of course hang out di central stage hard rock cafe liat sajian yang seri
di magelang... gak ada cerita karna aku nginap di jogja... aku ke magelang cuma 3 jam.. di jogja aku ketemu temen disana.. ngobrol banyak..dia dateng ma pacarnya (orang papua mbok...)
dimanado....,kembali dengan kepala seksi ku... nyampe jam 1 malam, gak dapet hotel karna pada saat kami dtang manado
Selasa, 18 Maret 2008
Grand Jaya Raya Bogor
tgl 18 Pebruari 2008 kami berangkat ke bogor dengan menggunakan bis kantor, lumayan repot juga ngurusin adik2x kelas ini, mulai dari ngabsenin mereka, sampai nunggu yang telat datang,hehehhe
yah thats one of my duty .....
tapi aku menikmatinya, aku seneng bgt melayani orang (bukan dalam arti negtaif ya)....
selama dibogor banyak kejadian2x seru, bahkan seru bgt. ngeliat mreka outbond dll....
inilah tugas awal ku di tahun 2008 ini
thx God ... aku bisa melaksanakannya dengan baik dan ikhlas...
my duty.....