Saya baru sadar betapa bangsa ini gemar berolok-olok dan mencerca bangsa sendiri.
Ketika dalam salah satu blog seseorang yang membahas mengenai olok-olok, ditanggapi dengan sahabatnya dengan ungkapan,”bukannya bangsa
Ironisnya, olok-olok ini sesungguhnya bisa membuat kita terjebak pada self-fulfilling prophecy, yaitu terdorongnya situasi atau perilaku baru melaui perkataan, pikiran atau keyakinan kita sendiri. Ungkapan-ungkapan seperti “kita ini bangsa yang bodoh”,”otak orang Indonesia paling segar, karena tidak pernah dipakai’”,”pemberantasan korupsi tidak akan pernah tuntas”, karena tidak diikuti oleh tindakan,action plan pribadi, kelompok maupun institusi secara jelas, malah bisa membuat kita sendiri frustasi dan malah memaki diri sendiri, bahkan melahirkan ‘lingkaran setan’ yang dibuat oleh keyakinan itu sendiri. Dikarenakan kemalasan dan tidak teganya kita memaki diri sendiri, maka olok-olok lah yang kita lontarkan pada pihak lain, dalam hal ini organisasi, lembaga pemerintahan, ataupun Negara sendiri.
Tertawa dan bercanda bersamaa adalah cara manusia untuk mempererat hubungan. Bayangkan betapa runyamnya hidup seseorang yang tidak pernah tersenyum atau tertawa. Tersenyum dimulai dari adanya koneksi yang menunujukkan daya tarik interpersonal, sementara tertawa dimulai dari kemauan individu untuk melihat sisi lucu dari sesuatu yang kasat mata.
Hanya pada saat individu berkembanglah, ia bisa mempunyai prespektif terhadap hal yang tidak kasat mata, lebih abstrak, dalam, dan melihatnya dari sudut pandang lucu, gembira, dan tidak sendu ataupun serius.
Orang yang banyak tertawa memang cenderung lebih happy dan optimistis. Namun tertawa, baik mengenai diri sendiri atau terhadap suatu situasi tentunya tidak berlaku bila tawa itu diwarnai dengan sinisme yang berlebihan ataupun pelecehan ke orang lain, apalagi ke diri sendiri.
Olok-olok yang sering kita dengar, terutama akhir-akhir ini, rasanya sulit digolongkan pada olok-olok yang sehat, karena ia terasa getir, sinis bahkan tidak menunjukkan esteem atau penghargaan diri. Orang yang ber-esteem rendah kita kenal sebagai orang yang mempunyai kebiasaan untuk menilai negative diri sendiri, tidak menyukai tantangan, malas bertindak, dan banyak tampil sebagai pengkritik tajam bahkan melecehkan orang lain. Tentunya kegiatan ini bukan bercanda lagi, apalagi disebut “sense of humor”.
Marilah mulai bangkit dengan membuat daftar sukses, apakah itu keberhasilan mengendarai mobil, menyelesaikan satu kerjaan dengan baik dan tepat waktu, lulus program beasiswa dari kantor, berhemat 100 ribu rupiah, ataupun sekedar keberhasilan untuk dating ke kantor tepat waktu. Dengan bersyukur, kita memupuk kualitas positif dan kompetensi sebagai modal kita.selanjutnya, mari kita hidup sesuai dengan tuntutan yang realistic dan tidak lupa untuk bertindak!
Tetap bersyukur dalam segala hal.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar